Melalui Pemberdayaan KWT, Kementan Berhasil Memasifkan Pengolahan Produk Lokal

udin abay | Rabu, 15 Maret 2023 , 23:20:00 WIB

Swadayaonline.com - Salah satu tujuan nasional pembangunan pertanian adalah mensejahterakan petani. Untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, Kementerian Pertanian melalui Pusat Penyuluhan Pertanian telah melaksanakan kegiatan pemberdayaan petani lewat program  SIMURP ( Strategic Irrigation Modernzation and Urgent Rehabilitation Project ), sebanyak  117 KWT dari 24 kabupeten, salah satunya adalah KWT Mawar Tani yang berada di Kabupaten Jember, Jawa Timur. 

Dalam kegiatan pembinaan oleh petugas Pusat Penyuluhan Pertanian tanggal 15 Maret 2023, yang bertempat di outlet penjualan produk KWT Mawar Tani, terlihat berbagai produk olahan tersaji baik berupa kripik dari berbagai bahan, tepung tepungan sebagai bahan minuman, produk minuman kesehatan, dan berbagai kue dan lauk . 

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) sering menyampaikan  bahwa untuk menjadikan pertanian maju, mandiri dan modern harus mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) pertanian yang berkualitas termasuk wanita taninya.

Sejalan dengan itu maka Pusat penyuluhan Pertanian selalu berupaya melakukan penguatan kapasitas wanita yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani  (KWT) melaui Bimtek Pengembangan KWT, Bimtek Kewirausahaan , Design packaging dan lainnya .

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa pemberdayaan wanita tani dilakukan guna meningkatkan skill dan pengetahuan yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan bagi para petani.

Dedi menambahkan jika pihaknya akan terus berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM pertanian melalui tiga program utama, yakni penyuluhan, pendidikan dan pelatihan.

Dedi menambahkan jika KWT tidak hanya mendapatkan pelatihan saja, tapi juga fasilitasi berupa bantuan sebesar Rp 20 juta dan wajib dibelikan untuk pembelian sarana (alat mesin) yang dipergunakan untuk pengembangan usaha olahan untuk meningkatkan nilai tambah.

Hal tersebut diakui oleh Indar Setiani,selaku ketua KWT bahwa setelah kelompoknya dinaikan kapasitasnya, kemudian difasilitasi sebesar Rp. 20 juta, untuk membeli berbagai alat olahan, sungguh terasa mudah untuk menggembangkan usaha. Alat tersebut antara lain alat seleb sambel pecel dan tepung, choper, blender, oven dan alat lainnya. Alat alat tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan usaha anggotanya yang berupa produk olahan seperti rengginang, kripik singkong, kripik kembang goyang, kripik pisang, kripik ulat sutra dan sebagainya.

Indar menambahkan selain 20 juta, juga ada penambahan bantuan sebesar 14 juta, sehingga bisa untuk nambah peralatan seperti rak untuk penjualan, kulkas pendingin minuman, kompor dan alat  lainnya. Dengan bertambahnya fasilitasi tersebut maka usaha KWT pun berkembang lebih kuat lagi, sehingga diversifikasi produk olahan semakin bertambah banyak seperti minuman beras kencur, minuman kunyit asam, dawet, susu sari kedele (Sule), salat buah, Jasuke (jagung susu, keju), naget, telur gulung, Cireng, bandeng presto, sambel pecel, jahe instan, tepung kunyit putih, tepung aluvera dan sebagainya. 

Dalam pertemuan pembinaan, Indar menyampaikan pada dasarnya KWTnya sudah terbentuk sejak tahun 1998, saat masa krisis moneter,  saat itu ibu ibu terasa susah perekonomiannya, maka mereka mulai mau berkelompok membentuk kelompok tani. Saat itu usahanya hanya kedelai goreng, kripik singkong, kripik pisang saja.  Disamping itu jumlah anggota hanya sekitar 15 orang.  Itupun juga banyak yang keluar dan dilanjutkan penerusnya, kecuali Indar sendiri selaku ketua tetap bertahan.

Dengan adanya pemberdayaan dari program SIMURP ternyata selain usahanya berkembang, jumlah anggotanyapun juga bertambah. Jumlah anggota sekarang sebanyak 32 orang, dan penjualan produkpun sudah di outlet, meskipun secara pribadi demi pribadi, anggotanya juga menjual produknya sendiri. YTS/SDM