Kerjasama Kabupaten Blitar dan UPT BPPSDMP Latih Petani Buat Agens Hayati

udin abay | Senin, 17 April 2023 , 18:49:00 WIB

Swadayaonline.com - Serangan hama penyakit tanaman semakin merajalela dan harga pestisida yang semakin tinggi membuat para petani banyak mengalami kerugian dalam berbudidaya. Menyikapi permasalaan tersebut, pemerintah telah melakukan himbauan secara masif agar pelaku utama menggunakan pestisida nabati atau agen hayati pada usaha taninya. 

Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo (SYL), menegaskan bahwa melalui inovasi teknologi, peran penting dalam pembangunan pertanian bisa meningkatkan produktivitas dan produksi, mengurangi biaya produksi, serta mampu merespons perubahan lingkungan strategis yang terjadi.

 Kementerian Pertanian (Kementan) terus meningkatkan kualitas SDM pertanian dan membuat sektor pertanian menjadi lebih menarik serta menguntungkan
Untuk mengatasi serangan hama penyakit tanaman yang meningkat, Pemerintah Kabupaten Blitar melalui Dinas Pertanian dan Pangan bekerjasama dengan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, UPT BPPSDMP, menyelenggarakan pelatihan pembuatan agens hayati di lingkungan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Garum. Pelatihan dilaksanakan selama empat hari diikuti oleh 40 pelaku utama dengan setiap angkatannya terdiri dari 20 peserta pelaku utama maupun wanita tani. 

Saeroji selaku widyaiswara dari BBPP Ketindan yang mengajar pada pelatihan ini menjelasakan, bahwa materi ini menitikberatkan tentang manfaat dan cara pembuatan agens hayati. 

“Agensia hayati adalah setiap organisme berupa jamur, bakteri, virus, nematoda, serangga dan hewan lainnya yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Agensia hayati ini sendiri sudah tersedia di alam, namun keberadaanya tidak seimbang sehingga perlu penambahan populasinya di lapangan,” tutur Saeroji.

Agen hayati itu dapat mencegah dan mengendaliakan hama dan penyakit pada tanaman padi seperti kepinding tanah, walang sangit, wereng, penyakit blas, penyakit hawar daun bakteri/ BLB (kresek) serta meningkatkan daya pertumbuhan tanaman padi. Dengan demikian menggunakan Agens Pengendali Hayati (APH) untuk megendalikan hama dan penyakit tanaman dapat menekan dampak negatif dari penggunaan bahan kimia sintetik sehingga dapat tercipta sistim budidaya pertanian yang sehat dan lebih ramah lingkungan serta terjaganya ekosistem pertanian yang berkelanjutan
Untuk meningkatkan ketrampilannya,  peserta secara langsung melakukan praktik membuat/memancing Trichoderma sp, Bakteri Corynebacterium sp dan PGPR. 

“Sebagai agens hayati, Trichoderma berpotensi menjaga sistem ketahanan tanaman misalnya dari serangan patogen seperti cendawan pathogen. Beberapa jenis jamur pathogen yang dapat dihambat perkembangbiakannya oleh Trichoderma sp yaitu Rigdifarus lignosus (penyakit jamur akar putih), Fusarium oxysporum (penyakit busuk batang fusarium), Rizoctonia solani (penyakit busuk pelepah pada jagung), Fusarium monilifome (penyakit layu fusarium) dan Penyakit busuk batang dari jamur sclerotium rolfsii serta cendawan sclerotium rilfisil,” imbuh Saeroji.

Apabila para petani dapat membuat sendiri Trichoderma sp, Bakteri Corynebacterium sp dan PGPR serta diaplikasikan pada usaha tani mereka, hal tersebut dapat meminimalisasi biaya  usaha tani, dapat tercipta sistem budidaya pertanian yang sehat dan lebih ramah lingkungan serta terjaganya ekosistem pertanian yang berkelanjutan.

Hal ini seperti dijelaskan oleh Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, bahwa SDM pertanian seperti widyaiswara, dosen, petani, penyuluh pertanian, praktisi pertanian lainnya harus terus ditingkatkan untuk menerapkan inovasi teknologi pertanian. Kunci pembangunan suatu bangsa diawali dari pembangunan SDM. 

“Kuncinya adalah pembangunan SDM-nya, pendidikannya, pelatihannya, penyuluhnya,” tegas Dedi Nursyamsi. SRJ/YNI