Serius Terapkan Pertanian Terpadu, Perangkat Desa Konawe Selatan Studi Tiru ke BBPP Kementan
udin abay | Jum'at, 16 Juni 2023 , 08:59:00 WIB
Swadayaonline.com – Rombongan yang terdiri dari 18 perangkat desa asal Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan melakukan studi tiru ke Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang pada Selasa (13/6).
Didampingi camat Moramo, Lisna, menyampaikan kedatangannya bersama para perangkat desa ini bertujuan untuk mengadopsi sistem pertanian yang ada di BBPP Lembang, khususnya pertanian terpadu. Ia menilai pertanian terpadu mampu menjadi solusi bagi petani di kecamatan Moramo yang mayoritas bergantung pada penggunaan pupuk kimia.
Menanggapi hal tersebut, Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menyambut dengan baik. “BBPP Lembang sebagai salah satu tempat berlatih bagi insan pertanian, telah menerapkan pertanian terpadu dan juga smart farming. Peserta dapat belajar di kawasan rumah pangan lestari sebagai gambaran pertanian terpadu dengan memanfaatkan kotoran hewan ternak dan cara bertani di lahan sempit,” paparnya.
Widyaiswara BBPP Lembang, Cece Mulyana, mendampingi peserta berkeliling area Inkubator Agribisnis.
Screen tanaman hias menjadi lokasi pertama yang dikunjungi peserta. Di sini peserta melihat koleksi anggrek, kaktus, dan sekulen yang dibudidayakan dengan berbagai variasi bentuk dan warna. Disampaikan Cece kaktus dan sekulen dapat menjadi salah satu ide wirausaha yang menjanjikan karena sistem budidayanya yang cukup mudah untuk dipelajari.
Peserta kemudian beranjak ke area lahan konvensional. Komoditas hortikultura seperti brokoli, cabai, dan jagung, tengah dibudidayakan di area lahan. Para peserta banyak berdiskusi dengan widyaiswara dan tampak tertarik mempelajari lebih lanjut sistem budidaya yang diterapkan.
Di kawasan rumah pangan lestari (RPL) peserta melihat budidaya dengan sistem hidroponik DFT. Cece menjelaskan sistem hidroponik dapat menjadi alternatif bertani di lahan terbatas. “Jika menanam di lahan, dengan luas lahan yang sama, sistem hidroponik mampu menghasilkan lebih banyak tanaman,” jelasnya.
Untuk menambah pemahaman peserta tentang pertanian terpadu, Cece mengajak peserta ke area pembuatan pupuk kompos. Di BBPP Lembang pupuk kompos dibuat dengan memanfaatkan kotoran sapi perah. Limbah ternak tersebut juga diolah menjadi biogas.
Screen kentang aeroponik menjadi lokasi terakhir yang dikunjungi peserta. Aeroponik merupakan salah satu teknik budidaya dengan pengkabutan nutrisi pada akar yang menggantung. Di screen ini BBPP Lembang membudidayakan kentang G0.
Ditemui di pengujung kegiatan, Slamet dari Desa Bisikori menceritakan pengalamannya. “Ini menjadi pengalaman yang sangat luar biasa untuk saya, kami bisa banyak belajar di sini mulai dari tanaman hias hingga pengolahan limbah ternak untuk pupuk organik,” katanya. Lanjut Slamet, Ia berharap dapat menerapkan ilmu yang sudah didapat kepada petani di desanya.
Kementerian Pertanian di bawah komando Menteri Syahrul Yasin Limpo (SYL) mendorong pengembangan pertanian terpadu dalam memperkuat ketahanan pangan dan peningkatan produktivitas. Mentan mengatakan “dengan dukungan kemajuan teknologi, pertanian seharusnya dapat lebih efisien”.
Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan “untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap produk kimia, maka perlu inovasi yang responsif berbasis organik”. Dedi juga memaparkan penggunaan produk organik dapat meningkatkan kualitas produk pertanian serta tanah, air, dan udara di lingkungan sekitar. DRY/YKO
