Tahun 2017, 10 Provinsi Akan Kembangkan Jarwo Super
aa | Selasa, 22 November 2016 , 21:54:00 WIBSwadayaonline.com - Kepala Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan), Dr. Muhammad Syakir bersama Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Herman Khaeron. Ketua Upsus Jawa Barat, Ibu Banun. Ketua BPTP Jawa Barat, Laferdi. Kepala Dinas Pertanian Subang, Pangdam, dan pejabat lainnya, melakukan panen padi Jarwo Super pada acara temu lapang “Inovasi Teknologi Budidaya Padi Jarwo Super Dalam Meningkatkan Ketersediaan Benih Padi Mendukung UPSUS di Jawa Barat” di Desa Sukasari, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Subang. (22/11/2016)
Tahun 2017, Kementan akan mengembangkan Jarwo Super 10 ribu hektar seluruh Indonesia di 10 Provinsi yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Aceh, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Melalui koordinasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Dirjen TP), Litbang Pertanian sudah menyiapkan 250 ton benih hasil pengembangan tahun 2016 yang akan dibagikan secara gratis terhadap pengembangan tersebut yang disesuaikan dengan karakteristik lahan masing-masing Provinsi.
Syakir mengatakan, 10 Provinsi pengembangan Padi Jarwo merupakan contoh basis produksi padi yang banyak berkontribusi padi nasional, tapi daerah lain juga harus tetap mengembangkan melalui BPTP. “Sesuai SK Mentan, saat ini Litbang diberi tugas bukan hanya menghasilkan benih sumber tapi produksi benih sebar, hal tersebut sebagai percepatan varietas unggul dan efisiensi penggunaan benih sumber. Saya yakin, kalau pengembangan Jarwo Super sudah dikembangkan oleh swasta dan penangkar maka sudah meringankan beban litbang,” tambahnya.
“Produktivitas Jarwo Super termasuk lahan sawah irigasi dan semi irigasi yaitu 9-13 ton/hektar, namun target kita produksi tahun depan 9-10 ton/hektar. Kalau secara nasional di replikasi 10 persen saja, maka akan menghasilkan 75 juta ton. Dari hasil produktivitas pengembangannya, setiap hektar di tagetkan 5 ton untuk benih sumber, sehingga dari 10 Provinsi menghasilkan 50 ton benih cukup untuk penanaman 2 juta hektar,” tegas Syakir.
Herman Khaeron memberikan apresiasi dengan berbagai inovasi dan reaksi cepat yang dilakukan Kabalitbang Pertanian dan Kementan. Menurutnya satu-satunya esellon I yang tidak pernah dikritik dalam rapat DPR RI adalah Badan Litbang yang sekarang, karena dahulu Litbang identik sulit berkembang yang selalu berinovasi tapi lambat dalam implementasi tapi sekarang tidak lagi. “Ibu Banun sebagai Ketua UPSUS Jawa Barat juga salahsatu pekerja yang luar biasa dan sangat tepat ditempatkan di Jawa Barat, karena etos kerjanya yang luar biasa, produksi hasil pertanian nasional Jawa Barat menjadi yang tertinggi,” ucap merasa bangga.
“Sekarang ini kita sedang membicarakan masalah pertanian, akan sangat berbahaya jika dalam pertemun ini tidak ada petani. Hadirnya Litbang Pertanian, Pemerintah Daerah, Pangdam yang mengawal petani, tapi kalau tidak ada petani disini itu bahaya sekali karena tidak ada yang merealisasikan atau mewujudkannya. Jadi keberadaan petani disini dan kelompok tani menjadi sangat tepat, karena petani adalah pahlawan pangan Indonesia,” ujar Herman Khaeron.
Anggota DPR RI ini juga mengatakan ada 5 elemen pokok yang menjadi kunci dalam keberhasilan menuju kedaulatan, kemandirian, tahanan, dan keamanan pangan. Yang pertama adalah tanah yang kini semakin sempit, ini kenyataan sesuatu yang tidak bisa dicegah. Di Korea Selatan semua kategori lahan pertanian sudah dijadikan lahan abadi, dan di Indonesia sedang di mulai. Kedua harus ada air. Walaupun Pembangunan bendungan sudah ada aliran irigasinya dan airnya cukup aman, tapi dengan adanya pembangunan pasti pengairan kita akan tersumbat.
Ketiga adalah benih. Benih yang baik akan berkontribusi 18 persen terhadap produktifitas. Benih semakin baik semakin tinggi hasilnya, maka benih sangat menentukan terhadap hasil panen. Keempat adalah pupuk, dan pupuk yang baik akan berkontribusi 17 persen terhadap produktifitas. Tanpa pemupukan yang baik maka hanya akan melahirkan ketidakefisienan, banyak uang yang dikeluarkan tapi hasilnya sama saja. Cara pemupukan berimbang dan spesifik lokasi harus dilakukan. Dan kelima adalah pengelolaan cara mekanisasi dan tata cara pertanaman atau pengolahan tanam. Banyak cara tanam yang kini dikembangkan harus mengikuti kemajuan teknologi seperti pemaikaian alat dan mesin pertanian (Alsintan) untuk antisipasi semakin berkurangnya lahan dan tenaga kerja. SY
