Litbang Pertanian Hasilkan Nanobiosilika Dari Sekam Padi
udin abay | Minggu, 01 Januari 2017 , 13:22:00 WIB
Swadayaonline.com - Indonesia merupakan produsen utama padi di dunia dengan produksi lebih dari 75 juta ton Gabah Kering Giling (GKG)/tahun atau setara dengan sekam/limbah 15 juta ton yang belum optimal pemanfaatannya. Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen (BB Paspa) menghasilkan teknologi memanfaatkan sekam sebagai bahan baku produk biosilika. Teknologi tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya sasaran strategis pembangunan pertanian.
Nanobiosilika dapat di hasilkan dari sekam langsung atau arang dan abu sekam dengan menggunakan teknologi sol gel dengan energi rendah namun menghasilkan rendemen tinggi serta tingkat kemurnian silika hingga 95%. Menurut Kepala Balitbang Pertanian, Dr. Ir. Muhammad Syakir, silika dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama penyakit, kerebahan dan dampak kekeringan. “Ada dua varian produk nanobiosilika yang caik dan bubuk. Produk tersebut dapat mengembalikan sebagai unsur hara tanaman padi yang ramah lingkungan dan dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing produksi padi, beras, dan hasil samping pengolahannya,” tambahnya. (30/12/2016).
Nanobiosilika serbuk telah diujicoba bersama Balai Besar Penelitian Tanaman Padi dan Balai Penelitian Tanah sebagai penyalut pupuk urea untuk mengendalikan pelarutan sekaligus meningkatkan efisiensi pupuk nitrogen, hasilnya menunjukkan disamping bisa sebagai pemupukan standar, juga mampu meningkatkan produktivitas dari 6,45 ton/ha menjadi 7,29 ton/ha dengan jumlah anakan produktif dari 14,6 menjadi 16,25 batang dan kekuatan batang dari 7,93 N menjadi 8,82 N.
Dalam pengembangan dan penyebarannya kepada masyarakat, Balitbang Pertanian bersama PT Petrokimia Gresik tengah menjajaki kerja sama untuk memproduksi nanobiosilika dari sekam padi. Menurut Syakir kerja sama dengan pihak swasta dilakukan untuk memudahkan diseminasi teknologi dan inovasi yang dihasilkan oleh para peneliti, karena selama ini banyak inovasi yang dihasilkan tidak dapat sepenuhnya dimanfaatkan secara luas karena tidak ada jaringan yang menghubungkan dengan petani.
“Kami tidak melakukan komersialisasi. Ini semata-mata untuk melakukan diseminasi secara massal. Selama ini kami terkendala di penggandaan dan penyebaran inovasi,” ujarnya pada acara Launching Produk Inovasi Pascapanen Nanobiosilika dan Produk Olahan Bawang Merah di Kantor Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian. Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian, terutama padi guna mewujudkan target swasembada pangan yang dicanangkan Presiden Joko Widodo,” tegasnya.
Pengembangan teknologi dan inovasi akan dikembangkan melalui 65 satuan kerja (satker) di seluruh Indonesia serta pemerintah daerah penghasil padi. Kepala Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian Risfaheri mengatakan selama ini sekam padi tidak dimanfaatkan oleh para petani alias terbuang percuma. Padahal dalam sistem pertanian modern, semua hasil pertanian harus bisa dimanfaatkan atau bernilai ekonomi. “Beda dengan jerami padi yang dimanfaatkan petani untuk pakan ternak, kalau sekam padi selama ini terbuang percuma, loss,” tegasnya.
Apalagi tiap tahun para petani di Indonesia menghasilkan sekitar 16 juta ton sekam padi. Sekam padi sebanyak itu bisa menghasilkan nanobiosilika sekitar 3 juta ton yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan tanaman padi seluas 10 juta hektar. Hoerudin, peneliti Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian mengatakan selain untuk pertanian, nanobiosilika ini juga dibutuhkan untuk sektor non pertanian, misalnya untuk panel surya. “Selama ini Indonesia tiap tahun mengimpor silika sebanyak 20.000 ton. Saat ini harga rata-rata silika sekitar Rp20.000 per kg. Coba kalau hasil inovasi kami ini diproduksi secara massal, berapa devisa yang bisa kita hemat. Selain devisa, tentunya manfaat nanobiosilika ini sangat besar karena berasal dari sekam yang selama ini tak memiliki nilai ekonomi,” tuturnya. SY
