Peserta Program CSR Tertarik Kembangkan Inovasi Teknologi Peternakan BPTP Balitbangtan Sulut

udin abay | Rabu, 08 Mei 2019 , 12:08:00 WIB

Swadayaonline.com - PT. Antam (Aneka Tambang) Halmahera Timur bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) di Sulawesi Utara, mengadakan kunjungan lapang bidang peternakan bagi peternak di wilayah Sulut ke beberapa lokasi binaan BPTP pada Selasa (30/4) hingga Jumat (3/5).

Kegiatan ini merupakan salah satu program pemberdayaan petani melalui Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Antam dalam bidang peternakan. Kepala BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara, Dr. Ir. Yusuf, MP. mengapresiasi inisiatif dari PT. Antam, yang telah memilih BPTP Balitbangtan Sulut yang merupakan lembaga sumber teknologi di daerah dalam pemberdayaan ini, "kami juga tidak hanya melayani daerah Sulawesi Utara, tapi semua yang butuh dan tertarik hasil kajian spesifik lokasi para pengkaji, kami sangat terbuka untuk melayani," ujar Yusuf Inovasi Teknologi peternakan yang sudah dikembangkan oleh peneliti di BPTP Sulawesi Utara sudah teraplikasi dibeberapa tempat di Sulawesi Utara, dan hasilnya sangat menggembirakan.

Menurut Ir. Paulus C. Paat, MP., Ahli Peneliti Utama Peternakan, petani banyak tertarik dengan inovasi teknologi peternakan sistim tower pakan ternak, "banyak yang mendatangi sendiri lokasi yang menjadi kegiatan pengkajian, berdiskusi dengan ketua poktan binaan sambil melihat dan pulang membuat sendiri." Ungkapnya.

Masih menurut Paat, bahwa keunggulan inovasi teknologi pakan ternak, adalah petani tidak direpotkan dengan waktu pindah sapi dan mencari makan, yang selama ini menjadi kendala petani. "Karena, ketika mengerjakan pekerjaan lain, harus cepat pulang karena mengingat pekerjaan pindah sapi. Dengan inovasi ini, petani tidak repot lagi, karena makanan telah disediakan saat kelimpahan pakan waktu panen." Jelasnya.

Dengan inovasi ini, pakan jerami ditampung dalam rancangan penampungan yang secara otomatis dapat diambil sendiri oleh sapi. Teknologi ini juga memiliki banyak manfaat lain bagi petani. Dari hasil penelitian Paat, pertambahan berat badan sapi per hari dapat mencapai 0,9 kg. Selain petani tidak repot lagi dengan pindah sapi, manfaat lain adalah kotoran sapi yang tertampung di kandang. Potensi ini dapat menjadi tambahan pendapatan petani. Karena kotoran diolah menjadi biogas, pupuk padat dan cair untuk kegiatan usahatani. Manfaat lain lagi dari inovasi ini adalah para petani jagung dan padi tidak lagi membakar jerami. Karena jerami diambil peternak untuk dimasukkan dalam tower pakan. Inovasi ini, sangat berkontribusi besar pada penekanan kerusakan ozon, akibat petani membakar jerami.

Potensi jerami padi menurut Paat, untuk 1 kali panen padi, jeraminya sudah dapat menghidupi 2-3 ekor sapi. Bila menggunakan perhitungan Indeks Pertanaman (IP) 200, artinya 2 kali panen dalam setahun, yang dapat menyediakan pakan untuk 4-6 ekor sapi dewasa. Bila potensi ini disandingkan, petani tidak hanya panen padi tapi juga daging.

Terpisah, Herry Purnama selaku Comdev Senior Officer CSR PT. Antam, mengungkapkan bahwa, mereka tertarik dengan inovasi teknologi ini, karena masalah petani binaannya yang hanya memelihara ternak secara ikat dan tidak dikandangkan. "Hal ini membuat petani repot dengan pindah sapi dan mencari lokasi untuk ikat sapi." Jelasnya. Herry berharap dengan melihat langsung di lapangan, para peternak dapat langsung melaksanakannya setelah kembali.

Arnold C. Turang, SP, pendamping lapang selama kunjungan menjelaskan, peserta telah mengunjungi tempat-tempat pengembangan peternakan sistim tower binaan BPTP Balitbangtan Sulawesi Utara yang ada di Minahasa Selatan tepatnya desa Po’po poktan Batu Kurung, Kegiatan Bio Industri Tondano, Pasar Blante (pasar tradisional Barter dan Jual Sapi) untuk melihat sistim transaksi dan harga sapi dan Mitra BPTP Dinas Pertanian dan Peternakan Sulawesi Utara pengembangan sapi Friesian Holstein (FH) di Tampusu Minahasa, juga di situs wisata pasar ekstrim Tomohon.

Pada setiap titik kunjungan, peserta sangat antusias dan mendapatkan penjelasan dari petani yang telah dibina BPTP Balitbangtan dan Dinas Pertanian Peternakan Sulut. Penutupan dilaksanakan di Makatete Hills desa Warembungan, dimana BPTP Balitbangtan Sulut menghadirkan tim yang terdiri dari para pakar pertanian, yaitu peneliti dan penyuluh pertanian dan peternakan untuk diskusi dengan peserta. SY/HMSL