Masih Cukup Stok Beras Beberapa Bulan

Swadayaonline - Kondisi pangan Indonesia pada saat ini semakin memburuk, hal ini diprediksi dengan terus bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia. bahkan di masa depan diprediksi akan terjadi kelangkaan pangan yang diakibatkan oleh beberapa hal seperti kerusakan lingkungan, konversi lahan, tingginya harga, pemanasan iklim, dan lain-lain. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang dulu hingga sekarang masih terkenal dengan mata pencaharian penduduknya sebagai petani atau bercocok tanam. Luas lahan pertanianpun tidak diragukan lagi. Namun, dewasa ini Indonesia justru menghadapi masalah serius dalam situasi pangan yang menjadi kebutuhan pokok semua orang.

Masalah komoditi pangan utama masyarakat Indonesia adalah mahalnya harga beras atau nasi, masih menjadi msalah. Muncul lonjakan konsumsi beras nasional sampai sekarang sehingga memaksa pemerintah untuk impor beras. Padahal jika tiap daerah tetap bertahan dengan makanan utama masing-masing maka tidak akan muncul kelangkaan dan impor bahan makanan pokok beras. Teknologi perlu diperhatikan mengingat untuk mengimbangi  berkurangnya lahan pertanian. Kualitas para petani perlu juga perhatian untuk mengolah sumber daya alam yang ada. Para petani tersebut perlu diberikan pengetahuan agar mampu memajukan jumlah komoditi pertanian.

Diperkirakan bulan April 2016, Indonesia akan memasuki musim panen. Hal tersebut di ikuti dengan menurunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM), namun yang terjadi harga beras dipasaran masih terbilang naik. Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri memberi perhatian khusus pada bahan pangan, terutama beras. Dirinya berharap harga beras tidak merangkak naik lantaran penyumbang inflasi dan berujung pada tingkat kemiskinan.

Tertinggi

Perusahaan Umum ?(Perum) Bulog sendiri mengakui harga beras Indonesia termasuk golongan yang tertinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Hal ini membuat, beras Indonesia sulit bersaing dengan negara lain seperti Thailand, Vietnam, dan lainnya. Walaupun Indonesia negara agraria, namun Thailand masih menjadi negara lumbung padi di ASEAN.

Tidak hanya itu, ada beberapa negara ASEAN lain yang mulai menyiapkan ketersediaan pangan. Negara Myanmar dan Kamboja dinilai mulai menunjukkan geliat perbaikan produk dan manajemen pertanian yang cukup signifikan dan harga berasnya sangat bersaing bahkan Myanmar dan Kamboja harga beras sudah lebih murah dari Thailand, ini pertanda bahwa petani, pemerintah, asosiasi, pengusaha sudah berbenah dan siap mengahadapi pasar bebas ASEAN.

Elnino

Dalam hukum ekonomi, tingginya harga sebuah komoditi bisa disebabkan oleh kelangkaan komoditi tersebut. Menanggapi naiknya harga beras dalam negeri, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan tingginya harga beras dalam negeri lebih disebabkan oleh El Nino yang menciptakan panas berkepanjangan menghasilkan beras dengan kualitas yang lebih bagus. Saat ini lebih banyak beras berkualitas premium daripada medium sehingga harganya pun lebih banyak yang berkisar nonsubsidi. "Walaupun banyak premium, secara kuantitas juga lebih banyak dari tahun sebelumnya, setiap hari Senin, masuk di Cipinang 5.000 ton, sebelumnya hanya 3.000 ton," jelasnya.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Hasil Sembiring mengatakan bahwa penemuan harga beras yang masih naik karena gabah kering masih banyak disimpan oleh masyarakat dalam jumlah yang banyak. Kementerian Pertanian sendiri tidak dapat memastikan apakah penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akan mempengaruhi penurunan harga beras, karena banyak faktor yang menentukan pergerakan harga tersebut. Pasalnya, dengan produksi beras yang baik maka harga pun bisa berpengaruh nantinya. "BBM turun dampak pada harga beras nanti kita lihat harus menata supply chain. Doakan semoga semuanya ke depan jadi lebih baik,"ujar Mentan.

Blusukan

Untuk menjaga kestabilan harga, dan memastikan ketersediaan pasokan di lapangan, di awal tahun kerja 2016, Mentan langsung blusukan ke Pasar Induk Beras Cipinang untuk memastikan stok dan harga beras. Dirinya memastikan bahwa pasokan beras di Cipinang saat ini masih aman, bahkan melimpah. "Pasokan per hari di Cipinang sekarang 4.000 ton per hari, biasanya 2.500 ton per hari di Januari. Jadi ada peningkatan karena produksi naik," tegasnya. Selain itu stok yang dimiliki Perum Bulog juga masih cukup. Masih ada stok 1,2 juta ton. Jumlah ini masih aman untuk kebutuhan penyaluran hingga hampir 5 bulan ke depan. Jadi, beras kita masih cukup. Tambahnya.

Dalam kunjungannya pasar Cipinang sekaligus operasi pasar, Mentan didampingi oleh jajaran Direksi Perum Bulog yang dipimpin oleh Direktur Utama (Dirut) Djarot Kusumayakti. Sekarang nih kita lakukan operasi pasar, dan stok yang ada sebesar 150 ribu ton cukup untuk beberapa bulan ke depan," jelasnya. Operasi pasar ini menurutnya akan terus dilakukan oleh pihak Kementerian Pertanian (Kementan) lewat kerjasama dengan Dirut Bulog.

“Tahun depan, dari hasil koordinasi kami dengan pihak BMKG, keadaan iklim kita sangat baik, maka stok beras kita pasti akan lebih dari cukup. Untuk diketahui, saat melakukan operasi pasar (OP) Bulog melepas beras di pasar Rp 8.300 per kilogram, sementara rata-rata harga beras jenis premium di Pasar Induk Beras Cipinang saat ini Rp 8.600 per kilogram. "Kisaran harga tersebut sudah sangat normal di pasar," tegasnya.

Februari nanti, Indonesia akan memasuki musim panen dengan total hasil panen mencapai 1 juta hektar. Produksi hasil panen tersebut ditargetkan akan mencapai 6 juta ton. Pemerintah akan melakukan operasi pasar sepanjang bulan Januari 2016 untuk menjamin ketersediaan beras pasca natal, tahun baru, dan penurunan harga BBM. SY