Gabungkan Teknologi Jarwo dan Rice Transplanter Untuk Tingkatkan Produksi Padi

udin abay | Senin, 18 Mei 2020 , 22:31:00 WIB

Swadayaonline.com - Untuk menjaga ketersediaan pangan dan mengantisipasi dampak  pandemi Covid-19, pada pertengahan Mei ini dilakukan gerakan tanam padi  serempak  yang dilaksanakan di Bulak Blawong, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Hal ini seiring dengan himbauan pemerintah melalui Kementerian Pertanian mendorong percepatan masa tanam untuk menghindari potensi kemarau panjang pada paruh kedua 2020. Dan mempertimbangkan laporan  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa masih terdapat curah hujan pada akhir Mei sampai Juni.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta kepada seluruh penyuluh pertanian dan petani di Indonesia agar segera melakukan Gerakan Percepatan Tanam Padi dan Jagung serentak.

“Kita harus bekerja lebih keras, lebih terpadu dan lebih gotong royong agar makanan rakyat bisa terjamin. Krisis pangan tidak boleh terjadi di Indonesia, kita hadapi dengan kerja keras dan semangat pantang menyerah.”

“Saya mengajak seluruh insan pertanian untuk menghadapi tantangan tersebut dengan dua langkah konkret, yaitu dengan penanaman yang lebih cepat dan momentum penyaluran sarana dan prasarana yang tepat. Diharapkan kerja sama dengan berbagai pihak lebih intens agar semua dapat berjalan dengan baik,” tegas SYL.

Gerakan tanam (Gertam) diawali dengan luas lahan 28 Ha, memakai benih varietas Mekongga yang telah disemai lebih dahulu secara dapok,  dengan mengadopsi teknologi jajar legowo (Jarwo) super 2 : 1 serta penggunaan mesin rice transplanter. 

Selaras dengan hal tesebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi, mengatakan pangan adalah masalah yang utama dan menentukan hidup matinya suatu bangsa, di mana petani harus tetap semangat tanam, olah, dan panen. 

“Hal ini membuktikan pertanian tidak berhenti di tengah wabah Covid-19, kepada para penyuluh pertanian maupun swadaya diharapkan untuk tetap bekerja mendampingi para petani,” papar Dedi.

Menurut Koordinator Penyuluh di BPP Jetis, Ismail dan Ketua Kelompok Tani (KT) Barokah, Yusron, gertam padi bertujuan untuk mendiseminasikan inovasi teknologi jajar legowo super 2:1 dan penggunaan alsintan, serta meningkatkan motivasi seluruh anggota kelompok untuk menerapkan inovasi tersebut guna peningkatan produktivitas padi sehingga berujung pada peningkatan kesejahteraan petani. 

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta merekomendasikan sistem tanam jajar legowo (jarwo) super sebagai metode tanam padi yang tepat bagi petani serta  sebagai solusi untuk menjawab akibat  penyusutan lahan pertanian di DIY  yang rata-rata mencapai 200 ha/tahun. Inovasi sistem tanam jarwo diyakini dapat meningkatkan produksi hingga 20%.

Sistem tanam jarwo merupakan manipulasi lokasi pertanaman sehingga memiliki jumlah tanaman pinggir lebih banyak dengan  adanya barisan kosong. Pertumbuhan dan perkembangan lebih baik karena memperoleh intensitas sinar matahari yang lebih banyak sehingga akan meningkatkan populasi  yang tentunya akan meningkatkan  produksi dan kualitas gabah yang lebih tinggi.  Selain itu teknologi ini menjadikan lahan sawah lebih terbuka dan tikus tidak menyukai sehingga meminimalkan hama penyakit dan memudahkan petani melakukan pemeliharaan. 

“Selain itu untuk membantu menentukan jarak antar tanaman padi dengan teknologi jajar legowo, petani di Bulak Blawong juga sudah menggunakan mesin transplanter sebagai solusi mengatasi kurangnya buruh tanam apalagi di musim pandemi Covid-19,” pungkas Ismail. SY/IRA/ISML/YNI