Sosialisasi Resiliensi Rantai Pasok Produk Segar dalam Menghadapi Bencana
udin abay | Senin, 12 Desember 2022 , 13:02:00 WIB
Swadayaonline.com - Perubahan iklim adalah tantangan terbesar dalam sektor pertanian, salah satunya adalah rantai pasok pertanian berupa produk segar dari produsen ke konsumen. Ini dikarenakan perubahan iklim menimbulkan berbagai bencana alam yang mengganggu dan merusak kegiatan, dari hulu sampai hilir, khususnya pada produk segar. Apalagi produk segar adalah produk yang mudah rusak karena tidak mengalami proses pengolahan.
Hal ini diamini oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang menyatakan dampak perubahan iklim menjadi tantangan yang sangat besar di sektor pertanian. Mentan SYL mengatakan harus adalah upaya untuk segera mengatasi dampak bencana.
"Khususnya dampak terhadap sektor pertanian. Karena, jika sampai pertanian terganggu, bukan hanya petani yang dirugikan. Stok bahan pangan untuk masyarakat juga bisa terputus," katanya.
Kemudian Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembanang Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menambahkan jika Indonesia menghadapi perubahan iklim yang ekstrim.
"Hal ini berdampak pada sendi-sendi kehidupan kita yang benar-benar terpuruk," ungkapnya.
Kementerian Pertanian melalui salah satu UPT-nya, Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang, melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan informasi tentang mitigasi bencana akibat perubahan iklim kepada petani-petani, mahasiswa dan siswa jurusan pertanian, dan perwakilan pegawai pemerintahan yang mengelola lahan pertanian di sekitar Sesar Lembang.
Sebagaimana diketahui, Sesar Lembang adalah salah satu sesar yang aktif di Jawa Barat dan sesar ini akan menyebabkan kerusakan kepada lahan pertanian yang menghasilkan produk segar seperti sayur, buah, dan bunga jika mengalami kondisi bencana, baik tanah longsor atau gempa. Lembang merupakan salah satu daerah yang menghasilkan produk segar seperti jeruk lemon, melon, brokoli, selada, hingga florikultura dan salah satu sentra produksinya ada di sekitar Sesar Lembang.
Kegiatan ini dipelopori oleh salah satu widyaiswara BBPP Lembang yang sedang melaksanakan kegiatan tugas belajar di Program Studi S3 Ilmu Pertanian, Universitas Padjajaran pada Sabtu, 10 Desember 2022 yang dihadiri 35 orang. Kegiatan ini diharapkan mampu membuat para peserta peduli terhadap lingkungan, baik sebelum, ketika, maupun setelah bencana agar tercipta rantai pasok produk segar yang tangguh.
“Sebuah kehormatan besar dapat menyelenggarakan kegiatan pengabdian ini untuk membantu masyarakat sekitar agar lebih peduli kepada lingkungan yang rawan bencana alam. Jika tidak ada mitigasi risiko, dampaknya akan merugikan para pelaku usaha tersebut, apalagi pada awalnya pelaku usaha ini belum memiliki strategi meminimalisir kerugian akibat bencana,” ujarnya.
Peserta tampak antusias mengikuti kegiatan ini. Peserta secara seksama mendengarkan penjelasan, simulasi, hingga praktik mitigasi risiko gempa bumi maupun tanah longsor pada sektor pertanian. Hasil praktik mitigasi diperoleh 2 komoditas produk segar yang masih mampu memberikan keuntungan jika terjadi bencana alam, yaitu padi dan ubi-ubian. Komoditas padi bukan termasuk tanaman yang ditanam di sekitar Sesar Lembang, maka komoditas ubi-ubian yang masih memberikan harapan besar jika terjadi bencana. Ini dikarenakan ubi-ubian cenderung tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim, walaupun nilai ekonomis maupun lama budidayanya tidak lebih menguntungkan dibandingkan padi atau gabah. BYU/BBPPLEMBANG
