BBPP Ketindan dan Kabupaten Blitar Galakkan "Gerakan Selamatkan Jerami"

udin abay | Senin, 17 April 2023 , 18:58:00 WIB

Swadayaonline.com - Dinas Pertanian Kabupaten Blitar yang belakangan ini gencar menyelenggarakan pelatihan pertanian di tiap kecamatan bekerjasama dengan UPT Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDM) yakni Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan untuk menyerukan “Gerakan Selamatkan Jerami” di sawah. 

“Gerakan Selamatkan Jerami” merupakan upaya untuk menyelamatkan bahan organik dengan tidak membakar atau tidak memberikan jerami kepada peternak secara gratis, karena jerami merupakan sumber bahan organik yang banyak mengandung pupuk bagi tanaman. 

Hal ini sejalan dengan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengajak para petani di seluruh Indonesia untuk meningkatkan penggunaan pupuk sendiri alias pupuk organik.

 Menurutnya, pupuk organik sangat dibutuhkan, selain karena pupuk subsidi yang ada saat ini jumlahnya sangat terbatas. 

"Belum lagi bahan baku pupuk seperti gugus fosfat dan kalium yang sebagian besar dikirim dari Ukraina dan Rusia tersendat karena perang keduanya. Jadi yang tidak dapat pupuk subsidi segeralah menghadirkan pupuk organik. Minimal setiap Kabupaten harus jadi percontohan dan tidak mengandalkan bantuan pemerintah pusat," ujar Mentan SYL.

Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi yang mengatakan bahwa pemupukan merupakan komponen utama pada sebuah tanaman. 

Menurut Nunung Nurhadi salah satu Widyaiswara BBPP Ketindan yang mengajar pada kegiatan ini, bahwa hal yang paling penting dalam “Gerakan Selamatkan Jerami” adalah pemahaman petani tentang berapa besar pupuk yang terkandung di dalam jerami. 

“Sebagai contoh pupuk kalium, jerami mengandung pupuk kalium sebanyak 1,5%. Ketika dalam 1 hektar dihasilkan gabah kering giling 7 ton maka akan menghasilkan jerami kering sekitar 5 ton karena perbandingan antara jerami dengan gabah adalah 2:3. Sehingga dalam jerami yang dihasilkan dalam 1 hektar terdapat 75 Kg kalium yang setara dengan 125 Kg kalium dalam pupuk KCl atau setara dengan kalium yang terdapat dalam 625 Kg Phonska. Dengan pemahaman awal ini kebanyakan petani sudah terperanjak bahwa pupuk dalam jerami sangat banyak ditengah mahalnya pupuk kalium saat ini,” jelas Nurhadi.

Pemahaman yang selanjutnya adalah bagaimana mengatasi masalah sosial yang sudah terlanjur menjadi kebiasaan di masyarakat. Selama ini jerami dianggap sampah oleh petani sehingga dibebaskan bagi siapa saja untuk mengambilnya. Hal ini sudah berlangsung puluhan tahun sehingga jika Gerakan selamatkan jerami diterapkan akan dianggap “pelit” dan “tidak umum” oleh masyarakat. 

“Untuk mengatasi hal tersebut memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, pemahaman bahwa jerami mengandung banyak pupuk harus di sosialisasikan pada berbagai kalangan mulai dari petani itu sendiri, peternak, beranjak ke kelompok tani ternak, Gapoktan sampai jajaran perangkat desa dan kecamatan dalam Musrenbangdes dan Musrenbangcam. Ketika semua elemen sudah memahami, maka gerakan selamatkan jerami dapat mulai diimplementasikan didukung oleh kesepakatan semua pihak didukung oleh peraturan desa,” tambah Nurhadi.

Cara lain dalam rangka selamatkan jerami ini juga dapat dilakukan secara “win-win solution” antara petani pemilik lahan dan peternak yaitu dengan dilakukan ”barter”.

 Setiap peternak yang mengambil 10 ikat jerami diharapkan menggantinya dengan 2 karung pupuk kandang yang telah matang. Dengan cara ini peternak tetap bisa mendapatkan pakan dan petani pemilik lahan tetap dapat melestarikan lahannya dengan pupuk organik. NHD/YNI